Studium Generale seg seismic gap tour “Bridges Over Troubled Waters: Experiments with Full-spectrum Geohazard Risk Reduction in Indonesia

Padang, 13 Juni 2025 – Acara Studium Generale bertajuk “Bridges Over Troubled Waters: Experiments with Full-spectrum Geohazard Risk Reduction in Indonesia” sukses digelar di Aula FMIPA Universitas Negeri Padang (UNP). Acara yang menghadirkan guru besar geologi dunia, Prof. Ron Harris, ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara BNPB, HAGI, dan UNP untuk membahas pendekatan komprehensif dalam mitigasi bencana. Studium Generale ini diselenggarakan oleh Direktorat Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB bekerja sama dengan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) dan Departemen Fisika FMIPA UNP. Acara yang berlangsung pada Jumat, 13 Juni 2025 pukul 08.00 WIB ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, khususnya sivitas akademika dan pemangku kepentingan, tentang mitigasi bencana.
Melalui tema “Seismic Gap Tour (SGT): Bridges Over Troubled Waters”, acara ini mengeksplorasi eksperimen dan pendekatan baru dalam pengurangan risiko bencana geologi secara menyeluruh (full-spectrum) di Indonesia. Peserta diharapkan dapat memahami upaya mengurangi risiko bencana, dampaknya, serta strategi penanggulangan yang efektif. Acara ini menghadirkan Prof. Ron Harris, seorang guru besar ilmu geologi berkelas dunia, sebagai pembicara utama. Kehadiran pakar internasional ini menunjukkan keseriusan dalam mengatasi tantangan kebencanaan di Indonesia. Turut hadir dalam acara ini Gubernur Sumatra Barat dan Wali Kota Padang, menegaskan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan. Panitia telah mengundang perwakilan dari berbagai institusi yakni UNP, Universitas Andalas, serta 11 perguruan tinggi negeri dan swasta yang tergabung dalam LPPM dan Riset Center Universitas di Sumbar, 6 Kepala BPBD, 5 institusi BMKG, dan 8 Kepala OPD, 11 lembaga non-pemerintah dan kalangan media publik
Studium Generale ini membahas pendekatan “full-spectrum geohazard risk reduction” yang mencakup seluruh aspek pengurangan risiko bencana, dari pemetaan dan pemantauan hingga kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Konsep “Seismic Gap Tour” yang diperkenalkan Prof. Harris merujuk pada identifikasi area-area yang berpotensi mengalami gempa besar berdasarkan periode kejadian gempa sebelumnya. Pendekatan ini sangat relevan untuk Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik dengan aktivitas seismik tinggi. Dengan menggabungkan ilmu geologi mutakhir dengan kebijakan dan praktik mitigasi lokal, acara ini bertujuan menciptakan “jembatan” pengetahuan yang menghubungkan sains dengan aplikasi praktis di masyarakat.
Dr. Hamdi, M.Si., selaku Panitia Pelaksana, menyampaikan harapan besar agar peserta yang diundang dapat hadir tepat waktu dan mendukung kegiatan ini sepenuhnya. Kolaborasi multidisiplin dan multi-stakeholder seperti ini penting untuk membangun ketangguhan bangsa dalam menghadapi ancaman bencana. Acara ini tidak hanya menjadi forum transfer pengetahuan, tetapi juga platform untuk memperkuat jejaring antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan kebencanaan. Diharapkan hasil diskusi dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan program pengurangan risiko bencana di tingkat lokal dan nasional. Studium Generale ini menandai komitmen berkelanjutan dalam membangun budaya sadar bencana melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif, menciptakan “jembatan” nyata melintasi “perairan berbahaya” ancaman bencana geologi di Indonesia.






