{"id":872,"date":"2015-03-02T07:41:55","date_gmt":"2015-03-02T07:41:55","guid":{"rendered":"http:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/?p=872"},"modified":"2015-03-13T07:52:59","modified_gmt":"2015-03-13T07:52:59","slug":"newton-tidak-penemu-gravitasi-bagian-ii-letmi-dwiridal-staf-pengajar-jurusan-fisika-fmipa-unp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/?p=872","title":{"rendered":"NEWTON TIDAK PENEMU GRAVITASI  (Bagian II)"},"content":{"rendered":"<p>NEWTON TIDAK PENEMU GRAVITASI<br \/>\n(Bagian II)<br \/>\n(Letmi Dwiridal, Staf Pengajar Jurusan Fisika FMIPA UNP)<\/p>\n<p>Apabila kita baca dan perhatikan hampir semua buku bacaan fisika, buku teks fisika, modul fisika dan sumber pembelajaran fisika di sekolah bertuliskan gambar dan cerita tentang konsep awal gravitasi dengan cerita jatuhnya buah apel. Pada buku-buku sumber pembelajaran tersebut, uraian tentang gravitasi dijelaskan dengan menggambarkan melalui cerita bahwa Newton sebelum menuliskan hukumnya tentang gravitasi duduk bermenung dibawah pohon apel kemudian melihat buah apel jatuh. Dengan menyaksikan peristiwa jatuhnya buah apel, Newton seolah-olah mendapat inspirasi tentang konsep tentang gravitasi dan hukum gravitasi, Apakah memang begitu kejadian sebenarnya\u2026? Semuanya perlu tanda tanya besar..? dan perlu dipertannyakan.?.<br \/>\nCerita tersebut dapat kita posisikan kepada cerita bohong atau tidak, dengan menalar pemikiran yang terdapat pada peristiwa tersebut. Dalam pembelajaran sekarang (sains fisika) memang siswa dan mahasiswa diajak untuk berfikir kritis tentang sesuatu fakta dengan nalar yang tinggi. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dan jawaban kita akan mengarahkan kemana arah pemikiran kita tentang cerita jatuhnya apel Newton. Walaupun pada fakta yang sebenarnya cerita apel jatuh itu adalah cerita bohong yang direkayasa oleh Voltaire. Akan tetapi pertanyaan nalar ini hanya sekedar untuk memperkuat kenyakinan kita terhadap kebohongan cerita tersebut.<!--more--><br \/>\nAnalisa Melalui Penalaran Yang Rasional<br \/>\n1 Apakah sebelum melihat buah apel jatuh Newton tidak pernah melihat benda-benda lain jatuh\u2026.?, misalnya buku Newton jatuh\u2026?, pena dan pensil Newton jatuh\u2026? atau Newton sendiri yang terpeleset dan jatuh\u2026?<br \/>\n2. Sudah jelas bagi kita sebelum berbuah apel tentu berdaun dulu, dan apakah dalam waktu yang cukup lama antara mulai berdaun sampai berbuah kemudian barulah buah tersebut jatuh\u2026Newton tidak pernah melihat daun apel jatuh\u2026..?<br \/>\n3. Di lingkungan rumah atau kampus tempat Newton beraktivitas sehari-hari tidak ada tanaman lain, seperti bunga-bunga yang daunnya jatuh..?, atau buah-buah lainnya yang jatuh..? kenapa harus cerita buah apel\u2026?<br \/>\n4. Sebagai seorang dosen perguruan tinggi di Cambridge University London Inggris. Bagi seorang dosen sudah jelas bagi kita, bahwa mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan disamping melalui penelitian, eksperimen juga membaca sumber buku bacaan lainnya, apakah Newton tidak pernah membaca buku sebelumnya..? (apakah Newton tidak pernah membaca buku lain..?, seperti buku-buku karangan ilmuwan muslim tentang gravitasi ; Al-Biruni dan Al-Kazini\u2026?)<br \/>\n5. Apakah pemikiran dan buku-buku ilmuwan muslim diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris kemudian dimusnahkan..? seperti yang terjadi pada saat kalifah Islam Ustmaniah di Turki (kota Istambul) jatuh ke tangan barat , semua sumber ilmu pengetahuan berupa buku-buku ilmuwan muslim diambil alih selanjutnya dimusnahkan..?, atau nama penulisnya ditukar dengan nama barat..?, hal itulah yang turut mempengaruhi arah perkembangan sains saat sekarang.<br \/>\n6. Apakah populeritas Newton dalam buku Principia (1687) tentang gravitasi tersebut juga tak lepas dari peran sistem media dan jurnalis ilmu pengetahuan yang didominasi oleh barat\u2026.? dan Newton dikenal seolah-olah pertama merumuskan teori gravitasi..?<br \/>\n7. Waktu turunnya Al-Qur\u2019an sampai waktu Newton menjelaskan kembali konsep dan hukum gravitasi itu dalam buku principia adalah sangat jauh sekali beda waktunya. Selisih waktu dari Al-Qur\u2019an turun sampai kepada zaman Newton adalah lebih dari seribu tahun lamanya (lebih 1000 tahun).<br \/>\n8 Cerita apel jatuh itu adalah rekayasa oleh Voltaire, Jadi ;<br \/>\nNEWTON TIDAK PENEMU GRAVITASI<br \/>\nBerdasarkan pertanyaan dan jawaban yang logis tentang pertanyaan tersebut di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa cerita apel jatuh tentang gravitasi oleh Newton itu adalah cerita bohong serta rekayasa.<br \/>\nNewton adalah seorang dosen perguruan tinggi di Cambridge University London Inggris. Bagi seorang dosen sudah jelas bagi kita, bahwa mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan seperti ilmu Fisika adalah melalui penelitian, eksperimen dan sumber bacaan yang sudah ada sebelumnya. Disamping belajar melalui eksperimen dengan metode ilmiahnya Newton juga menggunakan buku rujukan serta sumber bacaan lainnya yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang dikembangkan yaitu gravitasi. Sumber bacaan dan ilmu dari siapakah, Newton mengembangkan teori gravitasi.?. Apapun bacaan dan sumber ilmunya Newton, yang penting bagi kita untuk dianalisa bahwa sebelum adanya Newton, Islam telah berkembang sampai ke eropa.<br \/>\nWalaupun Newton bukanlah seorang muslim, akan tetapi bukanlah mustahil Newton juga mempelajari sumber ilmu dari ilmuwan Muslim seperti Al-Biruni dan Al-Kazini. Siapakah Al-Biruni dan Al-Kazini itu..?, dibuku ini juga akan penulis uraikan secara singkat tentang kedua ilmuwan muslim tersebut. Berdasarkan teori gravitasi tentang alam semesta oleh Stephen Hawking (2011) dengan teori black hole yang menjelaskan kesimpulan bahwa keteraturan alam semesta ini berhubungan dengan gravitasi. Jika gravitasi hilang maka dipahami bahwa semua keadaan seperti tersebut diatas tidak akan terjadi lagi, dan terjadilah manusia, kendaraan, rumah, gunung akan lepas dari bumi dan berterbangan.<br \/>\nDalam ayat Al-Qur\u2019an (Q.S.Al-Qoriah:1-5) di jelaskan bahwa pada hari Kiamat itu manusia dan Gunung berterbangan, dan ini berarti bahwa saat kiamat itu gravitasi pada alam semesta hilang. Pada hal jika kita analisa bahwa konsep terbang, berhamburan, bumi mengeluarkan isinya yang berat, pada saat Al-Qur\u2019an diturunkan, tentulah tidak sesuai dengan rasional kehancuran saat itu. Logika kehancuran atau kiamat mungkin dianalogikan oleh manusia saat itu dengan semisalnya; banjir besar manusia tengelam pada kaum Nabi Nuh (Q.S.Al-Qamar:9-17), Angin kencang dan topan pada kaum Ad (Q.S.Asy-Syu\u201dara:123-140 dan Al-Haqqah:1-7), Gempa bumi dan hujan batu pada kaum Nabi Luth,Q.S.Al-A\u201draaf:80-84), Gempa bumi dasyat dan halilintar pada kaum Tsamud (Q.S. Asy-Syu\u201dara:155-159 dan Al-Haqqah:1-7).<br \/>\nSecara Fisika semua rasional kehancuran tersebut diatas merupakan rasional kehancuran dimana masih bepengaruhnya gravitasi (gravitasi masih ada). Akan tetapi Nabi Muhammad SAW menjelaskan fenomena kehancuran (kiamat) setelah menerima wahyu dari Allah SWT Yang Maha Pencipta, dengan fenomena alam berterbangan, berhamburan, mengeluarkan beban yang berat, memuntahkan isi bumi keluar, berterbang-terbangan dan sebagainya. Semua peristiwa tersebut menurut Fisika merupakan bagian dari analisa gravitasi, saat peristiwa itu terjadi maka gravitasi hilang. Untuk lebih jelasnya dapat kita analisa melalui penalaran yang rasional berikut ini.<br \/>\nN Memahami Melalui Penalaran Yang Rasional<\/p>\n<p>1 Allah SWT telah mewahyukan dalam Al-Qur\u2019an melalui Nabi Muhammad SAW tentang fenomena gravitasi saat terjadinya hari kiamat. (Q.S. Al-Qoriah:1-5), (Q.S.Al-Muzzammil:14), (Q.S.Az-Zalzalah:1-2), (Q.S.Al-Insyiqaq:3-4), (Q.S.Al-Waqiah:4-6) dan semua ayat-ayat tersebut dapat kita lihat dan baca dalam Al-Qur\u2019an sampai saat ini dan insyaallah Allah SWT juga telah memberikan jaminan tentang keterpeliharaan Al-Qur\u2019an tersebut sampai akhir zaman nantinya.<\/p>\n<p>2. Fenomena gravitasi saat terjadinya hari kiamat, di jelaskan bahwa pada hari Kiamat itu manusia dan Gunung berterbangan, dan ini berarti bahwa saat kiamat itu gravitasi pada alam semesta hilang, hal ini sesuai dengan kesimpulan Stephen Hawking tentang gravitasi bahwa keteraturan alam semesta berakhir jika gravitasi tidak ada lagi atau hilang.<\/p>\n<p>3. jika kita analisa bahwa konsep terbang, berhamburan, bumi mengeluarkan isinya yang berat, pada saat Al-Qur\u2019an diturunkan, belum sesuai dengan rasional manusia tentang kehancuran saat itu. Dan dapat disimpulkan manusia (ilmuwan) setelah belajar 15 abad (hampir 1500 tahun) kemudian,\u2026.Sungguh nyata kebenaran Al-Qur\u2019an sebagai wahyu dari Allah SWT Yang Maha Pencipta.<br \/>\n4. Penalaran rasional manusia saat itu tentang kehancuran adalah ; banjir besar manusia tengelam pada kaum Nabi Nuh (Q.S.Al-Qamar:9-17), Angin kencang dan topan pada kaum Ad (Q.S.Asy-Syu\u201dara:123-140 dan Al-Haqqah:1-7), Gempa bumi dan hujan batu pada kaum Nabi Luth,Q.S.Al-A\u201draaf:80-84), Gempa bumi dasyat dan halilintar pada kaum Tsamud (Q.S. Asy-Syu\u201dara:155-159 dan Al-Haqqah:1-7). Dimana semua rasional kehancuran alam semesta diatas tersebut masih dibawah pengaruh gravitasi atau gravitasi masih ada.<\/p>\n<p>5. Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah SWT tentang fenomena gravitasi saat terjadinya hari kiamat. (Q.S. Al-Qoriah:1-5), (Q.S.Al-Muzzammil:14), (Q.S.Az-Zalzalah:1-2), (Q.S.Al-Insyiqaq:3-4), (Q.S.Al-Waqiah:4-6). Semua penjelasan tersebut di atas diterima oleh Nabi Muhammad SAW saat Al-Qur\u2019an diturunkan oleh Allah SWT. Waktu turunnya Al-Qur\u2019an tersebut sampai waktu Newton menjelaskan kembali konsep dan hukum gravitasi itu dalam buku principia adalah sangat jauh sekali beda waktunya. Selisih waktu dari Al-Qur\u2019an turun sampai kepada zaman Newton adalah lebih dari seribu tahun lamanya (lebih 1000 tahun).<\/p>\n<p>6. Rasulullah Nabi Muhammad SAW menyampaikan Wahyu Allah SWT pada peristiwa kiamat itu dengan gravitasi dan jika kita perbandingkan peristiwa tersebut dengan analisa Fisika sudah pada pemikiran tingkatan evaluasi. Berdasarkan teori berpikir manusia menurut taksonomi bloom ; tidak pada taraf berfikir rendah lagi seperti; Ingatan(C1), Pemahaman (C2) atau Aplikasi (C3) tetapi sudah pada tingkat pemikiran yang tinggi yakni tingkat Analisa (C4), Sintesa (C5), Evaluasi (C6). Sedangkan apabila kita telusuri sejarahnya Rasulullah Muhammad SAW itu bukanlah seorang ilmuwan dan itulah tanda serta bukti bahwa Al-Qur\u2019an itu benar dan sungguh benar berisi wahyu Allah SWT.<br \/>\nBerdasarkan analisa Fisika diatas melalui penalaran yang rasional dapat kita simpulkan bahwa ; Memang sungguh benar Al-Qur\u2019an, sungguh benar Al-Qur\u2019an itu berisi wahyu dari Allah SWT dan diturunkan kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Sungguh Al-Qur\u2019an itu berisi petunjuk dan sumber ilmu serta tidak ada keraguan lagi padanya dari Allah Yang Maha Pencipta.<br \/>\nApabila kita simak dengan mendalam masalah diatas berdasarkan teori berpikir manusia menurut taksonomi bloom ; Ingatan, Pemahaman , Aplikasi , Analisa, Sintesa, Evaluasi, dapat kita pahami bahwa Rasulullah menjelaskan peristiwa kiamat sudah pada tingkat evaluasi atau tingkat berfikir tertinggi. Tingkat evaluasi maksudnya karena pada ayat-ayat Al-Qur\u2019an tersebut sudah menjelaskan \u201c jika gravitasi sudah tidak ada maka manusia dan gunung berterbangan, bumi mengeluarkan isinya yang berat, dan sebagainya. Jadi Rasulullah Nabi Muhammad SAW menjelaskan peristiwa kiamat itu dengan konsep gravitasi sudah pada pemikiran tingkatan evaluasi. Apabila kita telusuri sejarahnya Rasulullah itu bukanlah seorang ilmuwan dan itulah bukti bahwa Al-Qur\u2019an itu benar, \u2026..Sungguh..sungguh Maha Benar Allah SWT dengan segala Firman-Nya.<br \/>\nRasional manusia tentang kehancuran ; banjir, hujan batu dan gempa dasyat dimana bangunan runtuh kebawah, pohon tumbang, tanah rengkah seperti rasional gempa saat ini. Tetapi berita kehancuran (kiamat) di jelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur\u2019an, diluar rasional dan diluar logika manusia saat itu. Berita kiamat tersebut adalah manusia seperti anai-anai terbang, gunung-gunung seperti kapas berterbangan, Bumi mengeluarkan isinya yang berat dan menjadi kosong. Semua peristiwa tersebut dalam fisika ada kaitannya dengan Gravitasi. Allah swt menjelaskan dalam firmanNya keadaan manusia, gunung-gunung ketika hari kiamat. Hal tesebutlah sesuai dengan yang diungkapkan oleh pakar fisika saat ini, dimana gambaran disaat hari kiamat itu gravitasi hilang.<br \/>\nManusia dapat mempelajari lebih lanjut bagaimana gravitasi itu, misalnya gaya gravitasi, medan gravitasi, hukum gravitasi, kelengkungan ruang dan waktu gravitasi, variasi percepatan gravitasi, perubahan gaya dan medan graviasi, serta keruntuhan gravitasi dan sebagainya. Tetapi yang perlu diingat bahwa manusia tidak memiliki ilmu tentang kapan gravitasi itu akan hilang dari alam semesta..?, dan kapan terjadinya hari kiamat..?, yang jelas pasti terjadi. Allah swt telah memastikan terjadinya kiamat itu di dalam Al-Qur\u2019an \u201cSesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentang kiamat itu, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman\u201d( Q.S.Al-Mu\u2019min:59).<br \/>\nAdanya sebagian manusia yang mengatakan bahwa kiamat itu terjadi pada hari dan tanggal ini dan itu, hal tersebut merupakan tanda-tanda pada diri mereka itu kekafiran. Kita sebagai muslim tidak perlu terpengaruh, karena yang demikian itu merupakan ujian keimanan bagi kita, yang pasti hanya Allah swt yang Maha Mengetahui kapan terjadinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div id=\"__if72ru4sdfsdfrkjahiuyi_once\"><\/div>\n<div id=\"__hggasdgjhsagd_once\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NEWTON TIDAK PENEMU GRAVITASI (Bagian II) (Letmi Dwiridal, Staf Pengajar Jurusan Fisika FMIPA UNP) Apabila kita baca dan perhatikan hampir<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/872"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=872"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/872\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":902,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/872\/revisions\/902"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisika.fmipa.unp.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}